Perbandingan Pertemanan pada Masa Sekolah dan Kuliah

Dipublikasikan: 6 November 2017
Oleh: Risaru
Kategori: Umum

pertemanan

Ketika kita masih kecil, ada beberapa anak tetangga yang menjadi teman kita. Tersenyum, bermain, dan bercanda bersama, meskipun hal yang anak-anak lakukan tidak jelas faedahnya dan sarat dengan imajinasi, tetapi kebahagiaan tetap menyelimuti hati mereka.

Masa sekolah pun demikian. Ketika SD, kita bermain dan menertawakan hal-hal yang entah apa maknanya bersama. Ketika SMP, meskipun sudah mulai merasakan cinta, lawan jenis tidak akan bisa mengalihkan teman dengan mudahnya. Ketika SMA, masalah pelik mulai menguji kedewasaan, tetapi teman selalu ada untuk memberi support, bahkan bantuan, meskipun itu hanya masalah kecil seperti ditolak cinta.

Kata orang dulu: “Pada masa sekolah, seluruh siswa adalah teman. Pada masa kuliah, semua mahasiswa hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan pada masa kerja, semua rekan adalah musuh”

Namun pada masa kuliah, teman-teman mahasiswa bagaikan orang jahat. Padahal mereka adalah orang-orang berperilaku baik, kata-katanya sopan, ramah dan murah senyum, berprestasi, taat agama, hapal kitab suci, dan taat beribadah. Tuhan dengan sifatnya yang Maha Pengasih tidak akan segan memberi mereka pahala. Norma masyarakat pasti menerima karena setiap tindakan mereka diwarnai dengan tata krama dan intelektualitas. Akan tetapi, tetap saja mereka jahat, setidaknya bagi sebagian orang.

“Temen kuliah tuh tai semua! Temenan paling enak ya di sini (tongkrongan), sudah saling mengenal dan mengerti, bahkan saling membantu kalo lagi susah. Temen kuliah emang pada mau nolongin lu?” -X, Mahasiswa angkatan 2012

Ketika kita sedang dalam masalah, “apakah mereka akan menolongmu?” Tidak usah masalah yang harus mengerahkan biaya mahal dan usaha keras. Yang sederhana seperti memberi dukungan sosial serta mendengarkan dan memahami orang lain saja. “Apakah mereka bisa melakukannya?” Bukan deh, lebih tepatnya “apakah mereka mau melakukannya?” Belum tentu, meskipun mereka adalah mahasiswa psikologi –yang katanya paling mengerti manusia.

Seseorang pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib RA: “Wahai Ali, sahabat-sahabatmu begitu setia, sehingga jumlahnya sangat banyak. Ada berapakah sahabatmu?”

Ali bin Abi Thalib RA: “Nanti kuhitung setelah aku tertimpa musibah”

Tags: , , ,