Nafsu, Dorongan dalam Diri yang Sangat Berbahaya bagi Kepercayaan Diri

Dipublikasikan: 11 October 2017
Oleh: Risaru
Kategori: Psikologi

satan

Seluruh makhluk hidup termasuk manusia memiliki nafsu yang terpendam dalam diri mereka masing-masing. Ingin memiliki kekayaan yang berlimpah (harta);, ingin memiliki kedudukan yang tinggi, diakui oleh orang-orang dan dipandang sebagai orang yang hebat oleh orang lain (tahta); dan ketertarikan secara seksual terhadap lawan jenis yang menyebabkan keinginan serta khayalan untuk melakukan hubungan intim dengan lawan jenis tersebut merupakan contoh-contoh dari nafsu yang dimiliki oleh manusia. Bahkan, ada pepatah yang mengatakan bahwa harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang sangat berbahaya karena dapat merusak kehidupan manusia.

 

Nafsu adalah dorongan terpendam dalam diri yang selalu “mendesak” untuk segera dipuaskan. Untuk memuaskan nafsunya, manusia bisa memerlukan orang lain –misalnya, berhubungan intim– dan bisa juga tidak memerlukan orang lain –misalnya, masturbasi. Jika nafsu disalurkan secara baik, tepat, dan  sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya –seperti norma agama atau norma masyarakat– maka seseorang akan merasakan kebahagiaan sejati yang akan menyehatkan dirinya baik secara fisik maupun psikis. Namun, jika nafsu dipuaskan dengan cara yang tidak baik, tidak tepat, dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya, maka akan merusak kepercayaan diri orang yang melakukannya.

 

Harry Stack Sullivan, tokoh Teori Interpersonal menyatakan bahwa nafsu yang biasanya muncul dengan kuat pada masa remaja adakalanya dapat mengurangi self-esteem. Selain itu, intensi  beraktivitas melampiaskan nafsu dengan orang lain yang tidak diterima akan meningkatkan kecemasan dan mengurangi self-worthSelanjutnya, nafsu juga dapat menghalangi dua orang untuk menjalin hubungan yang intim, terutama pada masa remaja, yaitu masa ketika seseorang sedang dibingungkan oleh daya tarik seksual yang dimiliki lawan jenisnya (Feist & Feist, 2008). Pada intinya, segala “bahaya” yang disebabkan oleh nafsu di atas dapat menyebabkan seseorang kehilangan kepercayaan dirinya, sehingga membuat dirinya merasa cemas, tidak berharga, tidak dapat dipercaya, dan terhambat untuk menjalin hubungan yang intim dengan orang lain.

 

Solusi untuk menghindari bahaya-bahaya di atas ialah mengontrol diri untuk menghindari hal-hal yang memicu kita melampiaskan nafsu secara tidak baik. Sebagai manusia, kita pun harus menerima bahwa kita memiliki nafsu yang merupakan naluri dasar yang ada di dalam diri tanpa pernah menyangkal kebederadaan dari nafsu itu sendiri. Jika kita menghindari pelampiasan nafsu secara tidak baik dengan cara menganggap bahwa nafsu itu tidak ada, maka yang terjadi adalah adanya ketidaksesuaian antara apa yang pikirkan dengan kenyataan yang terjadi, karena pada kenyataannya nafsu itu ada dan bersemayam di dalam diri setiap manusia.

 

Bibliography

Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Credit Image

Tags: , , , ,