Sufi dan Jalaluddin Rumi

Dipublikasikan: 2 October 2017
Oleh: Heidychan
Kategori: Agama, Islam

2003693817-300x0

Dalam istilah islami, sufi merupakan hal yang tidak asing didengar ditelinga kita. Bagi para pembaca yang belum memahami arti Sufi, Sufi berasal dari kata ‘suf’ dari kata Tasawouf yang artinya adalah wool atau dalam arti lain jubah (1). Asumsi penggunaan kata tersebut karena para Nabi dan orang-orang shaleh serta Darwis Kuno pada saat itu (yang dimulai pada abad pertama Islam), memakai pakaian wool, guna menunjukkan kesederhanaan dalam hidup, ketidak-hadiran akan dunia, dan komitmen cinta para Darwis untuk melayani umat manusia. Jadi, sufi adalah sebutan untuk para pendalam ilmu tasawwuf, yakni ilmu yang mendalami ketaqwaan kepada Allah, sebagaimana berdzikir,  atau dikenal juga sebagai ilmu laduni (bathin), yakni menkoneksikan hubungan secara vertikal langsung kepada Allah, dan menghadirkan Allah didalam hati kita dengan memadamkan api-api keduniawian.

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau dikenal dengan Jalaluddin Rumi merupakan penyair sufi terkenal sepanjang sejarah agama. Beliau telah menciptakan syair-syair populer dan memiliki nilai keindahan dan kedalaman yang akan ketuhanan tinggi, yang tidak hanya dinikmati kalangan umat muslim saja, namun juga populer dikalangan agama non-muslim terkait dengan syair-syairnya yang mengusung spiritualitas sebagai manusia yang menyentuh fitrah. Oleh karena itu, banyak yang menyebutnya sebagai masterpiece Matsnawi (1) sebagai “Al-Qur’an dalam bahasa Persia”. Bahkan bagi sebagian Muslim berbahasa Persia, Matsnawi adalah karya tulis yang paling banyak dibaca setelah Al-Qur’an dan Hadits. Selama puluhan tahun terakhir, syair-syair Rumi yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris telah menjadi buku paling laris di Negeri Barat terutama Amerika Serikat, serta banyak filsuf-filsuf Barat menafsirkan dan mempelajari khusus sastra Rumi.

Rumi meninggalkan dua model karya sastra yaitu esai (matsūrah) dan syair berirama (manzhūmah). Berikut ini beberapa karya Rumi dalam bentuk esai :

  1. Al-Majẚlis al-Sab’ah, berupa kalimat-kalimat nasihat dan khotbah yang merupakan buah pergumulan batin Rumi ketika mengenal gurunya, Syamsuddin al-Tibrizi.
  2. Majmū’ah min al-Rasẚ’il, buku yang ditulis oleh Rumi untuk para sahabat dan kerabat.
  3. Kitab Fihi Ma Fihi (2).
Whirling Dervishes (Tarian sema sufi)

 a.  Whirling Dervishes (Tarian sema sufi)

Selain menghasilkan hasil karya sastra Indah yang memberikan dampak besar bagi peradaban Islam dan sastra. Rumi juga menciptakan sebuah tarian yang dikenal dengan tarian sema (tarian sufi) atau dikenal dengan Whirling Dervishes (Darwis yang berputar) (Gambar a), yang tarian tersebut memiliki makna meninggalkan emosi serta semua rasa duniawi. Penari terus berputar-putar selama berjam-jam hingga mengalami ekstase sebagai tingkat pencapaian perasaan penyatuan dengan Tuhan. Awal terciptanya tari sufi, sebagai bentuk kesedihan Rumi atas ditinggalkan oleh guru spiritual yang telah  banyak merubah hidupnya, Syamsuddin Tabriz, yang telah mengajarkan dirinya makna dunia yakni dunia makna dan hakikat, berkat gurunya Rumi terinspirasi mempelajari lebih dalam ilmu tasawuf dan menetaskan banyak karya syair kecintaan yang dalam seorang hamba kepada Sang Pencipta. Tarian sema sufi juga dikenal sebagai tarian meditasi sebagai salah satu metode dzikir untuk selalu mengingat Tuhan dan menghilangkan segala macam pikiran kecuali Allah SWT.

Syair-syair Rumi, sangat mengusung tinggi spiritualitas yang kaya akan makna. Seperti salah satu nasihat yang telah diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi : “Mutu qabla an tamutu“, yang artinya matilah kamu sebelum mati. Jalaluddin Rumi menafsirkan bahwa dalam kalimat itu terdapat dua kata “mati” yang menunjukkan dua kematian. Kematian tamutu adalah kematian alami, sedangkan kematian mutu adalah kematian ego atau diri.

Dalam syair-syair Rumi, membantu kita dalam menemukan arti diri yakni arti esensial hubungan manusia dan Tuhan, ruh merupakan hal yang terpisah dengan jasad, yang senantiasa selalu ingin berpulang dengan-Nya, yang sejatinya fitrah manusia merindu akan Tuhannya. Seperti terjemahan kutipan syair Rumi:

Kata Ibrahim kepada Izrail, yang kan cabut nyawanya :

“Mungkinkah sang-Khaliq matikan kekasih-Nya?

Jawab-Nya :

“Apakah kekasih tak mau jumpa kekasihnya?”

 Maksud dari kutipan syair diatas adalah bagi pecinta kematian adalah saat pertemuan kerinduan dengan kekasih.

——————————————————————————-

Dari mana aku datang

dan apa yang harus ku lakukan?

Aku tak tahu

Jiwaku berasal dari suatu tempat

disana,

dan kuingin berakhir disana juga.

Selain itu syair-syair Rumi juga menyatakan bahwa Tuhan selalu berada di dalam diri kita sendiri, karena sesungguhnya ruh selalu memanggil penciptanya. Seperti pada kutipan terjemahan syair Rumi sebagai berikut :

“Kita mencari-Nya disana-sini, padahal sedang menatapnya lurus-lurus.

Duduk disisi-Nya, kita bertanya: “Wahai kekasih, dimana Sang Kekasih?””

Maksud dari kutipan syair tersebut adalah Tuhan ada dihati kita semua.

———————————————————————————-

Berhentilah mencari bebungaan di luar sana,

Ada taman dirumahmu sendiri.

Maksud dari kutipan syair tersebut adalah Tuhan ada dihati kita semua.

———————————————————————————-

Pecinta dan kekasih tidaklah baru bertemu di akhir perjalanan.

Mereka selalu bersama sepanjang jalan.

Maksud dari kutipan syair tersebut adalah Tuhan tak pernah meninggalkan manusia. Kita saja yang sering luput dari Tuhan.

———————————————————————————-

Jika kau temui aku tak didalam dirimu,

Maka kau takkan pernah temukan aku.

Karena,

Aku selalu bersamamu, sejak permulaan.

Kau cari Tuhan.

Itulah masalahnya.

Tuhan dalam dirimulah yang sedang mencarimu.

Syair-syair Rumi pun adanya menyeru dan menasihati kita, manusia, untuk mengingat kematian, dan rindu akan kematian, serta intropeksi diri dan nasihat tentang kehidupan (psikologi), sebagaimana kutipan syair yang mengingatkan kita semua adalah sebagai berikut :

“Jika kau takut dari kematian,

kau takut pada dirimu sendiri…

Itulah wajah buruk-mu,

bukan kematian,

Ruhmu seperti pohon,

kematian adalah daun-daunnya,

Berapa banyak anak-pikiranmu

kan kaulihat di kubur?

Pikiran-baikmu lahirkan

remaja dan bidadari.

Pikiran burukmu?

Setan-setan besar!

Kamu adalah pikiranmu,

Selebihnya tulang dan serat,

Kalau kamu mikir mawar,

Kamulah taman mawar;

Jika duri-duri,

kamulah bahan bakar tungku

Ada ribuan serigala dan babi dalam wujud kita,

Ada cantik, ada buruk,

Tergantung sifat-utama.

Jika lebih banyak emas dari tembaga,

emaslah ia.

Syair-syair Rumi amatlah indah nan menyentuk qalbu, mengurai makna yang sesungguhnya pada diri, yang sejatinya memang manusia fitrahnya selalu ingin kembali kepada Tuhannya, dan senantiasa condong kearah kebaikan. Hanya saja, terhalang oleh hijab-hijab yang ada didalam diri kita, sehingga qalbu menjadi kotor hingga terparahnya mati karena terbiasa mengabaikan larangan atau “warning” yang terdapat dalam hati dan terus melakukan keburukan atau hawa nafsu. Semoga dengan sebagian kecil kutipan Rumi ini dapat menggugah dan dapat bermanfaat menjadi penerang jiwa bagi kita semua.

 

Sumber :

(1) Dr. Nahid Angha, Sayyedeh., The Origins of The Word Tasawouf. Article in International Association of Sufism. http://ias.org/sufism/origin-of-word-tasawouf/.

(2) Syiria, Damaskus. 2016. Fihi Ma FiHi – 71 Ceramah Rumi untuk Pendidikan Ruhani. Jakarta: Penerbit Zaman.

(3) Bagir, Haidar., Hadi, Abdul H.W. 2016. Belajar Hidup dari Rumi: Serpihan-serpihan Puisi Penerang Jiwa. Jakarta: Penerbit Mizan.

 

Catatan kaki :

  1. Masnawi adalah jenis puisi Malayu lama yang berasal dari sastra Arab- Parsi.

 

Gambar :

a. MDC Hotel. 2017. http://mdchotel.com/wp-content/themes/mdc/assets/images/activities/atv/whirling_dervish_alternate.jpg

 

 

 

 

Tags: ,