Curahan Hati Wanita Penghibur: Kami Juga Manusia!

Dipublikasikan: 2 November 2017
Oleh: Risaru
Kategori: Cerpen, Sastra

wanita penghibur

Pada suatu malam, seorang pemuda sedang duduk menunggu hidangan termanis yang ada di dunia.

“Yang ini aja Mas,” sahutnya kepada seorang pelayan, setelah melihat katalog besar yang semua menunya tak kalah manis dengan yang dipesan olehnya. 

Pemuda itu duduk sambil bermain game menggunakan smartphone-nya untuk menunggu kedatangan hidangan yang telah dipesan. “Sial,” gumamnya setelah kalah dalam game yang sedang ia mainkan. Dia tidak bisa fokus karena jantungnya berdebar-debar begitu hebatnya. Hatinya tidak sabar menunggu hidangannya datang.

“Selamat malam Mas,” hidangan termanis di dunia itu berkata. “Silakan ikuti saya ya Mas,” tambahnya sambil tersenyum setelah tidak mendapatkan respon selain senyuman dari Si Pemuda.

Tidak hanya mata. Telinga, hidung, bahkan hati pun ikut menikmati hidangan ini. Parasnya begitu menawan. Lekuk tubuhnya begitu menggoda. Gundukkan di dadanya sangat menantang. Bahkan gelombang suara dan aromanya dengan mudahnya menusuk hati. Hati Si Pemuda itu pun semakin meronta tidak karuan.

Hidangan itu menggandeng tangan Si Pemuda dan membawanya berjalan melewati lorong yang terdiri dari berbagai bilik. Tangan hidangan itu begitu halus sampai hampir tidak menimbulkan 0,1 koefisien gesek pun. Sayup-sayup Si Pemuda mendengar desahan, yang hatinya tidak bisa mengingkari bahwa itulah suara terindah di dunia. “Sial,” keluh Si Pemuda dalam hati karena pikirannya menjadi kacau.

“Silakan masuk,” kata bidadari yang akan menjadi pelayan di surga dunia. Meskipun bilik ini hanya seluas  4 x 4 meter dan hanya terdiri dari sebuah ranjang, cermin besar, dan pintu menuju toilet, ruangan telah mampu membuat ribuan pria terbang menggapai kenikmatan layaknya di surga. Tanpa kata, pemuda itu duduk di atas ranjang. Dan tanpa komando dari tuannya, wanita penghibur itu duduk di sebelah tuannya.

“Namanya siapa Mas?” Ucap wanita itu untuk memecah ketegangan

“Sa.. Sa.. Satria Mba”

“Kok gerogi gitu Mas, baru pertama kali ya?”

“Iya Mba, aku ga terbiasa berhadapan dengan wanita cantik”

“Ah bisa aja kamu Sat. Selanjutnya panggil aku Lisa aja ya, biar lebih romantis”

“Oke Lis”

Mereka saling bertatap-tatapan. Lisa tersenyum. Satria ikut tersenyum. Dalam kondisi yang sangat membuntukan kinerja otak, Satria berpikir lebih keras untuk menghidupkan cahaya ilmu yang ada dalam pikirannya.

“Sebelumnya, aku ingin berbincang-bincang denganmu, boleh? Kalau kamu keberatan ga apa-apa kok. Kalau kamu bersedia, nanti bayarannya jadi dua kali lipat deh”

“Boleh aja sih. Tapi berbincang-bincang tentang apa dulu nih?”

“Pada tengah perbincangan nanti, kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu berhak tidak menjawab kok. Uang tambahannya tetap akan kuberikan jika kamu berhenti nanti”

“Oke aku sepakat. Apa yang mau kamu tanyakan kepadaku?”

“Kamu berusia berapa Lis?”

“20 tahun”

“Kapan ingin menikah?”

“Secepatnya. Ketika ada pria yang tulus mencintaiku dan ingin membuatku menjadi pendamping hidupnya”

Tiba-tiba Lisa tertawa kecil.

“Tapi kayaknya ga mungkin ada pria yang bakal kayak gitu ke aku deh. Profesiku aja seperti ini. Tuhan pasti enggan memertemukanku dengan pria baik yang akan mencintaiku dengan tulus.”

“Lisa punya niatan berhenti dari profesi ini?”

“Ingin… banget! Sejak dulu aku ingin berhenti dari profesi ini. Aku merasa tidak menjadi manusia seutuhnya. Aku merasa hanya sebagai objek seks. Mereka hanya senang melihat dan bermain dengan tubuhku dan menikmati selangkanganku. Senyumanku hanya direspon dengan tatapan penuh nafsu. Mereka tidak peduli siapa aku. Mereka tidak bisa mendengarkan teriakkan hati kecilku. Mereka hanya bisa mendengar suara desahanku ketika menikmatiku. Mereka hanya ingin mendengarkanku ketika aku berkata tentang seks, memuji kemampuan seksual mereka, dan ketika aku berkata bahwa aku puas. Hatiku kecilku tidak pernah mengerti apa makna dari seks meskipun aku sudah melakukannya berkali-kali.  Namun, apa dayaku? Dunia begitu kejam. Keadaan memaksaku melakukan ini. Tubuhku mungkin merasakan nikmat, tapi hati kecilku selalu menjerit tanpa ada seorangpun yang mendengarkan.”

Hati kecil Lisa menjerit, mendesak matanya untuk meneteskan air kesedihan. Sebagai wanita penghibur, dia selalu tersenyum kepada para pelanggannya. Dia selalu berusaha melayani mereka dengan sepenuh hati. Namun, hati kecilnya terlalu banyak menerima akumulasi rasa bersalah. Dia merasa tidak dianggap sebagai manusia. Bahkan dirinya sendiri juga tidak menganggap dirinya sebagai manusia. Dia merasa bahwa dirinya terlalu kotor untuk menjadi manusia. Padahal, jeritan hati kecilnya sudah cukup menandakan bahwa dirinya adalah manusia.

Lisa dan wanita penghibur lainnya adalah manusia. Mereka memiliki perasaan, memiliki emosi moral, dan memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Mereka melakukan pekerjaannya dengan menyakiti tiga aspek tersebut. Namun, semua orang harus mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang bahagia ketika diobjektifikasi. Manusia adalah individu yang memiliki kepribadian yang unik. Wanita penghibur adalah manusia. Lisa adalah manusia. Mungkin Lisa menyukai apel dan tidak menyukai durian. Mungkin Lisa menyukai warna merah dan tidak menyukai warna kuning. Lisa bukanlah objek seks saja. Lisa tidak hanya terdiri dari wajah, payudara, dan selangkangan. Wanita penghibur lainnya pun demikian. 

Tags: , , , ,