4 Dampak Psikologis yang Sangat Fatal dari Pornografi

Dipublikasikan: 31 October 2017
Oleh: Risaru
Kategori: Psikologi

no porn

Jumlah konten pornografi bertambah banyak seiring dengan berkembangnya teknologi dan informasi. Pornografi adalah segala konten dalam bentuk apapun (gambar, video, tulisan, dsb) yang memaparkan tubuh telanjang manusia dan kegiatan seksual yang dilakukan oleh manusia pada umur dan jenis kelamin apapun. Terlepas dari ras, jenis kelamin, usia, dan agama yang dianut, seseorang yang mengonsumsi pornografi akan mengalami kecanduan. Kecanduan pornografi dapat menyebabkan berbagai gangguan psikologis yang dapat memengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menghindari pornografi agar dapat mencapai performansi maksimal dalam berpikir dan berperilaku. Berikut 4 Dampak Psikologis yang Sangat Fatal dari Pornografi, yang patut dipertimbangkan sebelum mencicipi manis yang fana dari pornografi:

1. Merubah Sikap Seseorang terhadap Pornografi

Intensitas mengakses pornografi dapat memengaruhi sikap seseorang terhadap pornografi. Semakin sering seseorang mengakses pornografi, semakin positif sikap yang dimiliki terhadap pornografi (Franczyk dkk, 2014). Mereka yang sering mengonsumsi pornografi dapat beranggapan bahwa diri mereka sedang “baik-baik” saja.

2. Merubah Sikap Seseorang terhadap Seks Pranikah

Selain sikap positif terhadap pornografi, seseorang yang kecanduan pornografi juga memiliki sikap positif terhadap seks pranikah (Franczyk dkk, 2014). Mereka menganggap bahwa seks pranikah adalah hal yang baik untuk dilakukan karena tidak merugikan siapapun. Padahal, hubungan seks pranikah dapat membuat orang yang melakukannya merasakan berbagai gangguan psikologis seperti kecemasan, merasa berdosa, dan mengurangi kepercayaan diri (Regnerus & Uecker, 2011)

3. Kecenderungan Melakukan Sexual-Objectification

Sexual-objectification adalah memandang orang lain –khususnya lawan jenis– sebagai objek seksual semata tanpa terlalu memedulikan kepribadian, pikiran, dan perasaan dari orang tersebut. Ketika berinteraksi dengan lawan jenis, sexual-objectification dapat dilakukan secara tidak sadar. Pada proses interaksi, memersepsikan lawan interaksi sebagai objek seksual dapat menimbulkan rasa bersalah (Chen dkk, 2013), sehingga dapat memicu gangguan kecemasan. Selain itu, memersepsikan pasangan seks hanya sebagai objek seks membuat pasangan merasa tidak dicintai sama sekali (No-porn.com, 2007; Regnerus & Uecker, 2011).

4. Gangguan Kecemasan

Seseorang yang kecanduan pornografi memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Kecemasan tersebut disebabkan karena pecandu pornografi merasa bersalah terhadap lawan jenisnya, merasa tidak menghargai hubungan dengan lawan jenis, takut mendapat respon negatif jika ketahuan sering mengakses pornografi, dll (Wright, 2016). Oleh karena itu, penting bagi para pecandu pornografi untuk segera berhenti mengakses pornografi, agar terhindar dari kecemasan ini.

Demikianlah beberapa dampak psikologis yang dapat ditimbulkan dari pornografi. Pornografi dapat membuat seseorang merasa bersalah baik secara agama maupun secara moral. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghindari pornografi. Mari hapus segala konten pornografi yang tersimpan dalam gadget kita!

Daftar Pustaka

Chen, Z., Teng, F., & Zhang, H. (2013). Sinful flesh: Sexual objectification threatens women’s moral self. Journal of Experimental Social Psychology, 49(6), 1042-1048.

Franczyk, K., Cielecka, E., & Tuszyńska-Bogucka, W. (2014). Porn on Desktop. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 140, 192-196.

No-porn.com. (2007). Ten Keys to Breaking Pornography Addiction. Clearwater: Lightwave Resources LLC.

Regnerus, M., & Uecker, J. (2011). Premarital sex in America: How young Americans meet, mate, and think about marrying. Oxford University Press.

Wright, M. F. (2016). Identity, Sexuality, and Relationships among Emerging Adults in the Digital Age. IGI Global.

Credit Image

Tags: , , , ,